Aris E. Wahyudi

Membangun IT Abrakadabra

Nyengar-nyengir sendiri ketika menuliskan judul postingan ini. Entah karena kesel, kecewa, campur gregetan, dan agak mules. Melihat kondisi pengembangan IT dikode area 0353 yang stagnan, tapi tidak bisa berbuat banyak. Mungkin levelnya kayak orang kebelet pup (maaf), tapi dalam antrian yang cukup panjang. Hahahahaha…

Jadi giniloh, yang muncul pikiran awam saya. Semua itu butuh poses, apapun itu. Kecuali segelintir orang yang bisa/memiliki kemampuan istimewa mem-baypass proses tersebut. Boro-boro mencari yang istimewa, mencari yang memiliki kemampuan/skill dasar IT aja susah. Klopun ada yang memiliki sedikit kemampuan, gede kepalanya minta ampun. Bisa koding dikit aja, bualannya sampe kelangit, untung gak kesampluk montor mabur. Hahahahaha…

Klo ngomong IT itu kan ya luas banget, ada yang fokus ke koding, ada yang fokus ke jaringan, ada yang fokus ke server dan storage, ada yang fokus ke kemanan siber, atau hanya bisa pengolah angka dan pengolah kata yang saya sendiripun ndak bisa 😀 Itupun masih dijlentrehkan lagi menjadi bagian-bagian kecil. Ada passion masing-masing.

Seperti pengembangan perangkat lunak, tidak bisa hanya Abrakadabra, sekarang minta besok langsung jadi, ada kaidah-kaidah yang perlu dipenuhi, seperti model waterfall emang teoritis banget sih, tapi itulah proses yang harus dilalui. Padahal saya salah satu type orang yang kurang suka (baca : benci) yang teoritis. Hahahahaha…

Begitu juga security, kata Bruce Schneier “Security is a process not a product”. Nah loh, proses lagi kan? Proses akan selalu bergerak dinamis tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap hari, tiap bulan, tiap tahun. Apa jadinya klo proses itu terhenti? Klo butuh dongeng nabi-nabi untuk bahas security boleh diskusi sambil ngopi dengan saya nanti, tak bayarin! 😀

Beberapa waktu lalu saya sempet ketemu dan diskusi banyak dengan Pak Made (klo orang IT pasti tahu siapa beliau) jadi tidak hanya membahas kemanan siber (kebetulan forumnya digital forensics), disela-sela makan siang kita membahas tentang pengembangan IT di daerah. Pendapat beliau, tata kelola dulu dong yang dikuatkan, klo ada Dewan TIK di daerah, mereka yang ngawal, siapa yang seharusnya ada di Dewan TIK, mengacu aja ke Dewan TIK Nasional. Ketika asistensi ada template contoh kok dari Menpan.

Dan saya nyari-nyari template contoh kok belum nemu, hanya nemu yang Dewan TIK Nasional.

Contoh kasus nih di kode area 0353 :
[Internet Lemot]
* Yang serius kerja teriak-teriak internet lemot, gak bisa kerja.
* Difilterlah beberapa website yang unfaedah, ada yang teriak lagi, gitu aja diblokir, kan butuh hiburan/refreshing.
* Yang pegang bandwidth management jadi puyeng, dibukalah filter, wes karebmu, akhirnya lemot lagi.
* Ada yang teriak lagi, internet lemot kok gak ada solusi, tak pasang sendiri aja deh internetnya.

Untuk menyelesaikan kasus diatas kira-kira butuh apa dulu ?
Yang jelas bukan Abrakadabra 😀

Minggu Sore, 29 September 2019
dan Sudah Lelah

Jika Maling [merasa] Benar

Alkisah, Pak Wo sekeluarga pergi piknik keluar kota, tak lupa beliau menitipkan rumah dan kuncinya kepada sang pembantu. Pada suatu malam, rumah Pak Wo dibobol maling dan baru ketahuan pagi harinya oleh sang pembantu. Pak Wo pun segera pulang, dan segera melaporkan kejadian itu ke polisi. Pihak kepolisian pun melakukan penyelidikan, singkat cerita si maling akhirnya tertangkap. Akhirnya si maling di interogasi :

Polisi    : “Kamu mencuri di rumah Pak Wo?!!!”
Maling : “Tidak pak!”
Polisi    : “Ayo ngaku!!!
Maling : “Tidak pak!”
Polisi   :”Kamu ngaku tidak??!!” (sambil menggebrak meja)
Maling : “Iya pak, saya ngaku mencuri!”
Polisi   : “Kenapa kamu mencuri!”
Maling : “Ya salah sendiri pak, pagar dan pintunya bisa saya buka pak!”
Polisi  : ….. dst.

dari kisah diatas, siapa kira-kira yang bersalah?
1. Pak Wo
2. Pembantu
3. Maling
4. Polisi

silahkan dikomen, analisa dan jawaban yang paling keren [menurut] Pak Wo, akan mendapatkan hadiah menarik! 🙂

#keepSmart

 

Orang IT itu …

Kesel juga sih klo ada anggapan orang IT itu susah diajak komunikasi/kerjasama (aka. brengsek 😀 ). Anggapan siapa? ya adalah. Trus siapa sih orang IT itu? Apakah orang yang memiliki titel S.Kom dan sejenisnya, atau siapa? Padahal orang-orang IT sudah terbiasa bekerja sama. Cuman kerjaan orang IT gak kelihatan dan cenderung disepelekan, parahnya malah dianggep gak kerja. Klo kerja bener gak dipuji, salah sedikit dicaci. 😀

Kayaknya klo membahas masalah komunikasi perlu dihubungkan ke teori Joseph A. DeVito (2013 : 8-16), dalam komunikasi interpersonal terdapat beberapa unsur atau elemen penting, yaitu : Sumber – Penerima (Source – Receiver), Pesan (Message), Encoding – Decoding, Media (Channel), Gangguan (Noise), Umpan Balik (Feedback), Konteks (Context), Etika (Ethics). Nah unsur dan elemen penting tersebut harus dipenuhi supaya komunikasi itu bisa berjalan dengan baik. Jadi tidaklah fair klo masalah komunikasi hanya dipandang dari satu sisi, atau bahkan hanya dari titel yang melekat.

FYI, dari angkatan saya yang 20 tahun yang lalu kuliah di jurusan Teknik Informatika(ternyata saya sudah tua 😀 ), sekitar 75% bisa menyelesaikan study-nya, 25% sisanya entah kemana. Nah dari 75% yang lulus tersebut, hanya sekitar 25% yang konsisten dengan disiplin ilmunya bekerja/berprofesi di bidang IT. Trus yang 50% lainnya? Tentunya mereka tersesat memilih jalan lain, seperti saya 😀 . Dari kisah diatas bisa disimpulkan, tidak semua S.Kom (Sarjana Kompor) adalah orang IT.

Balik ke tahun 2001 ketika saya masih berstatus mahasiswa dan bekerja di PT. HRD Indonesia, bergabung pada sebuah team yang kebetulan menangani pelatihan budaya kerja (culture workshop) di Pertamina seluruh Indonesia, mulai low level sampai top level. Kok jadi baper kangen kawan-kawan lama ini ya…
Ini untuk membuktikan klo saya juga bukan 100 % orang IT 😀

Surabaya All Team

Continue reading

Calendar

September  2020
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
   
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30